Wednesday, December 21, 2011

Suatu pagi seorang bayi siap untuk dilahirkan ke dunia. Dia bertanya kepada Tuhan,
Bayi : "Para malaikat di sini mengatakan bahwa besok Engkau akan mengirimku ke dunia, tetapi bagaimana cara saya hidup di sana? saya begitu kecil lemah."
Tuhan : "Aku sudah memilih 1 malaikat untukmu. Ia akan menjaga dan mengasihimu. "
Bayi : "Tapi di sini di dalam surga apa yang pernah kulakukan hanyalah bernyanyi ...dan tertawa. Ini sudah cukup bagi saya."
Tuhan : "Malaikatmu akan bernyanyi dan tersenyum untukmu setiap hari dan kamu akan merasakan kehangatan cintanya dan menjadi lebih berbahagia."
Bayi : "Dan bagaimana saya bisa mengerti saat orang-orang berbicara kepadaku jika saya tidak mengerti bahasa mereka?"
Tuhan : "Malaikatmu akan berbicara kepadamu dengan bahasa paling indah yang pernah engkau dengar dan dengan penuh kesabaran dan perhatian dia akan mengajarkanmu bagaimana cara berbicara."
Bayi : "Apa yang akan saya lakukan saat saya ingin berbicara kepadamu?"
Tuhan : "Malaikatmu akan mengajarkanmu bagaimana cara berdoa."
Bayi : "Saya dengar bahwa di bumi banyak orang yang jahat, siapakah nanti yang akan melindungi saya?"
Tuhan : "Malaikatmu akan melindungimu walaupun hal itu akan mengancam jiwanya."
Bayi : "Tapi saya pasti akan sedih karena tidak melihatMu lagi."
Tuhan : "Malaikatmu akan menceritakan padamu tentang-Ku dan akan mengajarkan bagaimana agar kamu bisa kembali kepada-Ku, walaupun sesungguhnya Aku akan selalu berada di sisimu."
Saat itu surga begitu tenangnya sehingga suara dari Bumi dapat terdengar dan sang bayi pun bertanya perlahan,
"Tuhan, jika saya harus pergi sekarang, bisakah Engkau memberitahuku nama malaikat tersebut?"
Jawab Tuhan,
"Kamu akan memanggil malaikatmu..... ♥ "IBU"♥. Selamat Hari Ibu. 8-|

Kisah Nyata: Ketika Sri Sultan HB-IX Terkena Tilang di Pekalongan

Cerita yang sangat menarik dan contoh keteladanan seorang pemimpin besar
.....
Semoga menjadi inspirasi untuk kita yang hidup di negeri Indonesia
sekarang ini
....

http://jogjakini.wordpress.com/2011/12/09/kisah-nyata-ketika-sri-sultan-hb-ix-terkena-tilang-di-pekalongan/

Kota batik Pekalongan di pertengahan tahun 1960an
menyambut fajar dengan kabut tipis , pukul setengah enam pagi polisi muda
Royadin yang belum genap seminggu mendapatkan kenaikan pangkat dari agen
polisi
kepala menjadi brigadir polisi sudah berdiri di tepi posnya di kawasan Soko
dengan gagahnya. Kudapan nasi megono khas pekalongan pagi itu menyegarkan
tubuhnya yang gagah berbalut seragam polisi dengan pangkat brigadir.

Becak dan delman amat dominan masa itu , persimpangan Soko mulai riuh
dengan
bunyi kalung kuda yang terangguk angguk mengikuti ayunan cemeti sang
kusir. Dari
arah selatan dan membelok ke barat sebuah sedan hitam ber plat AB melaju
dari
arah yang berlawanan dengan arus becak dan delman . Brigadir Royadin
memandang
dari kejauhan ,sementara sedan hitam itu melaju perlahan menuju kearahnya.
Dengan sigap ia menyeberang jalan ditepi posnya, ayunan tangan kedepan
dengan
posisi membentuk sudut Sembilan puluh derajat menghentikan laju sedan
hitam itu.
Sebuah sedan tahun lima puluhan yang amat jarang berlalu di jalanan
pekalongan
berhenti dihadapannya.

Saat mobil menepi , brigadir Royadin menghampiri sisi kanan pengemudi dan
memberi hormat.

“Selamat pagi!” Brigadir Royadin memberi hormat dengan sikap sempurna .
“Boleh ditunjukan rebuwes!” Ia meminta surat surat mobil berikut surat ijin
mengemudi kepada lelaki di balik kaca , jaman itu surat mobil masih
diistilahkan
rebuwes.

Perlahan, pria berusia sekitar setengah abad menurunkan kaca samping secara
penuh.

“Ada apa pak polisi ?” Tanya pria itu. Brigadir Royadin tersentak kaget ,
ia
mengenali siapa pria itu . “Ya Allah…sinuwun!” kejutnya dalam hati . Gugup
bukan main namun itu hanya berlangsung sedetik , naluri polisinya tetap
menopang
tubuh gagahnya dalam sikap sempurna.

“Bapak melangar verbodden, tidak boleh lewat sini, ini satu arah !” Ia
memandangi pria itu yang tak lain adalah Sultan Jogja, Sri Sultan
Hamengkubuwono
IX. Dirinya tak habis pikir , orang sebesar Sultan HB IX mengendarai
sendiri
mobilnya dari Jogja ke Pekalongan yang jauhnya cukup lumayan., entah
tujuannya
kemana.

Setelah melihat rebuwes , Brigadir Royadin mempersilahkan Sri Sultan untuk
mengecek tanda larangan verboden di ujung jalan , namun sultan menolak.

“ Ya ..saya salah , kamu benar , saya pasti salah !” Sinuwun turun dari
sedannya dan menghampiri Brigadir Royadin yang tetap menggengam rebuwes
tanpa
tahu harus berbuat apa.

“ Jadi…?” Sinuwun bertanya , pertanyaan yang singkat namun sulit bagi
brigadir Royadin menjawabnya .

“Em..emm ..bapak saya tilang , mohon maaf!” Brigadir Royadin heran ,
sinuwun
tak kunjung menggunakan kekuasaannya untuk paling tidak bernegosiasi
dengannya,
jangankan begitu , mengenalkan dirinya sebagai pejabat Negara dan Rajapun
beliau
tidak melakukannya.

“Baik..brigadir , kamu buatkan surat itu , nanti saya ikuti aturannya, saya
harus segera ke Tegal !” Sinuwun meminta brigadir Royadin untuk segera
membuatkan surat tilang. Dengan tangan bergetar ia membuatkan surat tilang,
ingin rasanya tidak memberikan surat itu tapi tidak tahu kenapa ia sebagai
polisi tidak boleh memandang beda pelanggar kesalahan yang terjadi di depan
hidungnya. Yang paling membuatnya sedikit tenang adalah tidak sepatah
katapun
yang keluar dari mulut sinuwun menyebutkan bahwa dia berhak mendapatkan
dispensasi. “Sungguh orang yang besar…!” begitu gumamnya.

Surat tilang berpindah tangan , rebuwes saat itu dalam genggamannya dan ia
menghormat pada sinuwun sebelum sinuwun kembali memacu Sedan hitamnya
menuju ke
arah barat, Tegal.

Beberapa menit sinuwun melintas di depan stasiun pekalongan, brigadir
royadin
menyadari kebodohannya, kekakuannya dan segala macam pikiran berkecamuk.
Ingin
ia memacu sepeda ontelnya mengejar Sedan hitam itu tapi manalah mungkin.
Nasi
sudah menjadi bubur dan ketetapan hatinya untuk tetap menegakkan peraturan
pada
siapapun berhasil menghibur dirinya.

Saat aplusan di sore hari dan kembali ke markas , Ia menyerahkan rebuwes
kepada
petugas jaga untuk diproses hukum lebih lanjut.,Ialu kembali kerumah dengan
sepeda abu abu tuanya.

Saat apel pagi esok harinya , suara amarah meledak di markas polisi
pekalongan ,
nama Royadin diteriakkan berkali kali dari ruang komisaris. Beberapa polisi
tergopoh gopoh menghampirinya dan memintanya menghadap komisaris polisi
selaku
kepala kantor.

“Royadin , apa yang kamu lakukan ..sa’enake dewe ..ora mikir ..iki sing
mbok
tangkep sopo heh..ngawur..ngawur!” Komisaris mengumpat dalam bahasa jawa ,
ditangannya rebuwes milik sinuwun pindah dari telapak kanan kekiri bolak
balik.

“ Sekarang aku mau Tanya , kenapa kamu tidak lepas saja sinuwun..biarkan
lewat, wong kamu tahu siapa dia , ngerti nggak kowe sopo sinuwun?”
Komisaris
tak menurunkan nada bicaranya.

“ Siap pak , beliau tidak bilang beliau itu siapa , beliau ngaku salah
..dan
memang salah!” brigadir Royadin menjawab tegas.

“Ya tapi kan kamu mestinya ngerti siapa dia ..ojo kaku kaku , kok malah
mbok
tilang..ngawur ..jan ngawur….Ini bisa panjang , bisa sampai Menteri !”
Derai
komisaris. Saat itu kepala polisi dijabat oleh Menteri Kepolisian Negara.

Brigadir Royadin pasrah , apapun yang dia lakukan dasarnya adalah posisinya
sebagai polisi , yang disumpah untuk menegakkan peraturan pada siapa saja
..memang Koppeg(keras kepala) kedengarannya.

Kepala polisi pekalongan berusaha mencari tahu dimana gerangan sinuwun ,
masih
di Tegalkah atau tempat lain? Tujuannya cuma satu , mengembalikan rebuwes.
Namun
tidak seperti saat ini yang demikian mudahnya bertukar kabar , keberadaa
sinuwun
tak kunjung diketahui hingga beberapa hari. Pada akhirnya kepala polisi
pekalongan mengutus beberapa petugas ke Jogja untuk mengembalikan rebuwes
tanpa
mengikut sertakan Brigadir Royadin.

Usai mendapat marah , Brigadir Royadin bertugas seperti biasa , satu minggu
setelah kejadian penilangan, banyak teman temannya yang mentertawakan
bahkan ada
isu yang ia dengar dirinya akan dimutasi ke pinggiran kota pekalongan
selatan.

Suatu sore , saat belum habis jam dinas , seorang kurir datang
menghampirinya di
persimpangan soko yang memintanya untuk segera kembali ke kantor. Sesampai
di
kantor beberapa polisi menggiringnya keruang komisaris yang saat itu tengah
menggengam selembar surat.

“Royadin….minggu depan kamu diminta pindah !” lemas tubuh Royadin , ia
membayangkan harus menempuh jalan menanjak dipinggir kota pekalongan
setiap hari
, karena mutasi ini, karena ketegasan sikapnya dipersimpangan soko .

“ Siap pak !” Royadin menjawab datar.

“Bersama keluargamu semua, dibawa!” pernyataan komisaris mengejutkan ,
untuk
apa bawa keluarga ketepi pekalongan selatan , ini hanya merepotkan diri
saja.

“Saya sanggup setiap hari pakai sepeda pak komandan, semua keluarga biar
tetap
di rumah sekarang !” Brigadir Royadin menawar.

“Ngawur…Kamu sanggup bersepeda pekalongan – Jogja ? pindahmu itu ke jogja
bukan disini, sinuwun yang minta kamu pindah tugas kesana , pangkatmu mau
dinaikkan satu tingkat.!” Cetus pak komisaris , disodorkan surat yang ada
digengamannya kepada brigadir Royadin.

Surat itu berisi permintaan bertuliskan tangan yang intinya : “ Mohon
dipindahkan brigadir Royadin ke Jogja , sebagai polisi yang tegas saya
selaku
pemimpin Jogjakarta akan menempatkannya di wilayah Jogjakarta bersama
keluarganya dengan meminta kepolisian untuk menaikkan pangkatnya satu
tingkat.” Ditanda tangani sri sultan hamengkubuwono IX.

Tangan brigadir Royadin bergetar , namun ia segera menemukan jawabannya.
Ia tak
sangup menolak permntaan orang besar seperti sultan HB IX namun dia juga
harus
mempertimbangkan seluruh hidupnya di kota pekalongan .Ia cinta pekalongan
dan
tak ingin meninggalkan kota ini .

“ Mohon bapak sampaikan ke sinuwun , saya berterima kasih, saya tidak bisa
pindah dari pekalongan , ini tanah kelahiran saya , rumah saya . Sampaikan
hormat saya pada beliau ,dan sampaikan permintaan maaf saya pada beliau
atas
kelancangan saya !” Brigadir Royadin bergetar , ia tak memahami betapa
luasnya
hati sinuwun Sultan HB IX , Amarah hanya diperolehnya dari sang komisaris
namun
penghargaan tinggi justru datang dari orang yang menjadi korban
ketegasannya.

July 2010 , saat saya mendengar kepergian purnawirawan polisi Royadin
kepada
sang khalik dari keluarga dipekalongan , saya tak memilki waktu cukup untuk
menghantar kepergiannya . Suaranya yang lirih saat mendekati akhir hayat
masih
saja mengiangkan cerita kebanggaannya ini pada semua sanak family yang
berkumpul. Ia pergi meninggalkan kesederhanaan perilaku dan prinsip kepada
keturunannya , sekaligus kepada saya selaku keponakannya. Idealismenya di
kepolisian Pekalongan tetap ia jaga sampai akhir masa baktinya ,
pangkatnya tak
banyak bergeser terbelenggu idealisme yang selalu dipegangnya erat erat
yaitu
ketegasan dan kejujuran .

Hormat amat sangat kepadamu Pak Royadin, Sang Polisi sejati . Dan juga
kepada
pahlawan bangsa Sultan Hamengkubuwono IX yang keluasan hatinya melebihi
wilayah
negeri ini dari sabang sampai merauke.

Depok June 25′ 2011

Aryadi Noersaid

(baca juga
http://jogjakini.wordpress.com/2011/12/21/tanggapan-aryadi-noersaid-penulis-kisah-nyata-ketika-sri-sultan-hb-ix-terkena-tilang-di-pekalongan/)

Wednesday, January 19, 2011

Tentang Senar dan Tarikan
Senar bg 66
kelebihan: akurat dan kelenturan sangat bagus
kekurangan : agak tipis (gampang putus)

senar bg 65 ti / bg 68 ti
kelebihannya: akurat dan kekuatannya bagus ( soalnya ketebalan senar 0.68mm sedangkan bg 66 cuman 0.66mm)
kekurangan: kurang lentur (kontrolnya kurang enak)

bg 66 sharp
kelebihan: lentur, kuat, stabil ( muantap deh, buat smash, buat kontrol sama enaknya.
kekurangannya mahal euy...(165-170rb) beti ama raketnya.


Mengenai tarikan.
normalnya 27-28
kestabilan dan keakuratan pukulan termasuk ok

kalo 22-25
kekuatan pukulan bertambah, jadi kalo yang powernya kurang, bisa di kurangin tarikannya.
Tapi keakuratan pukulannya juga menurun. kl kita smash agak susah ngontrol bolanya.

kalo tarikan 29-30
keakuratan pukulan sangat enak ( kalo power kita dah stabil) smash juga tajam, dan tepat sasaran.
Tapi kalo raketnya palsu, bisa retak/pengok gara2 senar, trus juga biasanya kalo mata itiknya ada yang rusak, biasanya senar juga jadi gampang putus.


Mengenai simpul.
kalo raket kita di simpul 2
biasanya ga terlalu gampang putus, soalnya ikatannya hanya di simpul 2 sisi jadi bisa membal. cuman, kalo kelamaan ga putus2 senar juga jadi kendor, jadi tarikan nya menurun.

kalo raket kita di simpul 4,
biasanya agak gampang putus, kalo di smash terus2an, tapi senar tidak akan kendor. sebab di simpul di 4 sisi.


skarang coba kita perhatikan lebih dalam,string badminton memiliki spec tersendiri gan.itu bisa dilihat dari jenis senar,ketebalan,trus juga pada kekuatan pemasangan pada raket(tension/kuat tarikan). dan in general teorinya adalah seperti ini :
1. semakin kaku/stiff senar raket yang kita pakai maka power pukulan akan semakin lemah,tapi sebaliknya control pada shuttlecock akan lebih akurat,
2. semakin tebal senar raket maka semakin melemahkan power pukulan tetapi sebaliknya akan meningkatkan akurasi/kontrol,
3. semakin kencang tarikan senar akan melemahkan power tapi sebaliknya akan meningkatkan akurasi/kontrol pada shuttlecock.
teori diatas didasarkan pada sistem trampoline effect yang terjadi pada senar saat tubrukan dengan shutcock.jadi semakin lentur maka akan menghasilkan power yang lebih pada pukulan.

jadi singkat kesimpulannya adalah bahwa jenis, ketebalan, dan kekuatan tarikan raket itu memliki fungsi tersendiri yang penggunaannya adalah untuk menyesuaikan tipe permainan pemain gan.

sekarang kita coba tilik contohnya:
1. untuk pemain bertipe menyerang(biasanya si pemain belakang pada ganda) itu lebih prefer menggunakan tipe snar yang bisa ngasi tenaga yang powerfull.disini kontrol sedikit dikesampingkan.jadi rekomendasinya disini adalah dengan menggunakan tarikan yang lebih lemah tarikannya (saran:18-22lbs) dan jenis senar yang lentur dan lebih kecil(gauge : 19-20 micro). efek yang dihasilkan tentu adalah smash yang keras.
2. kalo tipe bertahan atau playmaker(pemain depan ganda) itu lebih prefer pake dengan senar yang specnya menyediakan control yang akurat pada pukulan (tension: 24-26 lbs dan gauge 21-22 micro).

itu hanya sebagai contoh saja, jika ukurannya adalah yang bukan atlet tapi lumayan jago lah.

skarang gemana kalo sebagai pemula?..nah pemula disini tentu masih bermasalah dengan power pukulan jadi lebih baik gunakan tarikan senar yang rendah (18-21 lbs).bukan malah string yang kenceng karena justru tidak akan memberikan power pada pukulan. beda dengan atlet, mereka yang telah melatih otot tangan sedemikian rupa tidak lagi terpengaruh dengan perbedaan tarikan yang menghasilkan pukulan yang kuat/ lemah,,makanya mereka prefer pada tarikan yang kuat untuk lebih meningkatkan akurasi/ kontrol pukulan.

skarang yang agak bikin ngganjel adalah gini, di daerah ane toko2 olahraga tidak pernah menyarankan untuk menarik senar sampai lebih dari 25 (disini 25 udah tarikan yang sangat kenceng) ,,namun saat ane kuliah (daerah yg laen tentunya) raket ane slalu direkomendasiin buat disnar 27/28..(walopun ane akhirnya ngotot minta disnar 22 aja si..). coba kasi pendapat agan2 terkait masalah ini?? kalo saya si prefer pakek tarikan 22 senar yonex BG 66.menurut ane tu lebih enak buat mukul kenceng(hehe). intinya gunakan tipe dan tarikan senar sesuai dengan tipe permainan sodara2.

source: http://forum.pbdjarum.org/showthread.php?t=1925